Himpunan Mahasiswa Islam Komisariat UPP PGSD Bone Gelar Bazar dan Dialog Dies Natalis HmI ke-79

 


Dalam rangka menyemarakkan Milad Himpunan Mahasiswa Islam (HmI) yang ke-79, HmI Komisariat UPP PGSD Bone sukses menyelenggarakan kegiatan Bazar yang dirangkaikan dengan Dialog Intelektual bertajuk "HMI Talk". Kegiatan ini berlangsung khidmat dengan antusiasme tinggi dari para kader serta tamu undangan. Kegiatan yang dilaksanakan di Bunir Coffee ini dimulai tepat pukul 19.30 WITA. Suasana hangat kafe berpadu dengan semangat dialektika, menciptakan ruang diskusi yang inklusif bagi seluruh insan cita yang hadir. Mengangkat tema sentral dari PB HMI, "Khidmat HMI untuk Indonesia", panitia pelaksana secara spesifik membedah realitas sosial-politik melalui sub-tema: "Membaca Ulang Arah Demokrasi Indonesia Hari Ini dan Dialektika Peran Kader HMI dalam Ruang Publik." 

Kegiatan ini menghadirkan perpaduan antara kemandirian ekonomi organisasi melalui wadah bazar dan penguatan literasi melalui dialog. Dengan empat narasumber lintas perspektif dihadirkan untuk memberikan bobot gagasan, di antaranya:
  • Sulfiana, S.Tr.Kes., M.Biomed
  • A. Ulfiandi, S.Pd., M.Pd.
  • Rohzali Putra Badaruddin
  • Andi Geerhand, S.Pd., M.Pd.
Diskusi yang berjalan dinamis tersebut dipandu oleh Marsya Puspita M. selaku moderator, yang berhasil menghidupkan suasana dialektika antara narasumber dan audiens.

Ketua Umum HMI Komisariat UPP PGSD Bone, Muhammad Fikri Arfah, dalam sambutan pembukaannya menekankan bahwa HMI di usia ke-79 ini harus bertransformasi menjadi organisasi yang adaptif namun tetap memegang teguh khitah perjuangan.

"HMI saat ini tidak hanya bergerak dalam ranah gagasan di atas kertas, tetapi juga harus hadir secara nyata melalui kemandirian ekonomi dan diskursus intelektual yang tajam. Di usia yang ke-79 ini, insan HMI tidak cukup hanya hadir secara fisik, tetapi harus mampu mengambil sikap, berani bersuara, dan konsisten berdiri di barisan nilai keadilan serta kemanusiaan," tegas Fikri.

Melalui kegiatan HMI Talk ini, diharapkan para kader mampu memetakan kembali posisi strategis mereka di tengah hiruk-pikuk demokrasi Indonesia yang kian kompleks. Peran kader di ruang publik bukan sekadar sebagai pengamat, melainkan sebagai aktor intelektual yang menawarkan solusi konkret bagi bangsa. Momentum milad ini menjadi refleksi panjang bahwa khidmat HMI untuk Indonesia adalah perjalanan yang tidak akan pernah usai, selama semangat pengabdian dan kemandirian tetap tertanam di dada setiap kader hijau hitam.

 



Komentar