Refleksi Hari Sumpah Pemuda, Kembali Membentuk Kesadaran Pemuda di Era Modern Oleh Sitti Rahmawati

 

Refleksi Hari Sumpah Pemuda, Kembali Membentuk Kesadaran Pemuda di Era Modern


 

Sitti Rahmawati


28 Oktober 1928, kembali merenungi peristiwa bersejarah yang telah terjadi pada 93 tahun yang lalu. Tercatat sebagai peristiwa yang menjadi tonggak utama dalam sejarah pergerakan kemerdekaan Indonesia.

Sedikit mengingatkan para pembaca mengenai sejarah lahirnya sumpah pemuda. Mengutip dari buku Makna Sumpah Pemuda (2012) oleh Sri Surdaniyatun, sumpah pemuda berasal dari kata sumpah dan pemuda. Sumpah diartikan janji dan harus ditepati. Sehingga, sumpah pemuda berarti janji para pemuda yang diucapkan saat kongres pemuda II di Jakarta, 28 Oktober 1928. Pada 1908, rakyat Indonesia mulai memiliki kesadaran untuk bersatu melawan penjajah. Di berbagai wilayah, pemuda Indonesia mulai membentuk perkumpulan dan menentang penjajah. Kemudian pada 1928, rasa kebangsaan Indonesia dan persatuan Indonesia mulai menjadi cermin dari rasa bangga, rasa memiliki cita-cita tinggi untuk Indonesia merdeka.

Dari kongres yang dipimpin oleh Mohammad Yamin menghasilkan rumusan ikrar “Sumpah Pemuda”.

1.      Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia.

2.      Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.

3.      Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Jika, kita kembali merenungi sejarah, kita akan menemui para pemuda hebat yang berjuang untuk kemerdekaan Republik Indonesia. Tentunya dalam proses perenungan ada hal-hal yang perlu dibenahi sebagai bagian dari proses perenungan tersebut. Perlu dipahami bahwa sebagai pemuda hari ini telah diberi tongkat estafet perjuangan para pemuda bangsa, pemuda harus turut andil sebagai nahkoda dalam menentukan arah dan masa depan negara. Jika kita kaitkan dengan pemuda hari ini, maka wajar saja jika tumbuh sikap skeptis dalam perenungan akan kemajuan negara kesatuan Indonesia.

Pertanyaan yang terbesit dari penulis yakni apakah pemuda hari ini masih mengingat sejarah hebat di tahun 1928 ? Menjadikan hari sumpah pemuda sebagai ajang untuk merenungi sejauh mana langkah kita sebagai pemuda yang menyandang status kemahasiswaanya, sejarah membuktikan bahwa pemuda hari ini tidak mampu membawa perubahan yang signifikan untuk kemajuan bangsa. Apakah ada sejarah hebat yang diukir oleh pemuda setelahmasa reformasi berlangsung ?

Hari ini pemuda diakui dengan eksistensinya di dunia maya, sibuk mengkritik pemerintah tapi ciut ketika ancaman akan kepentingan individunya mulai diusik. Sibuk mempertontonkan kelihaianya dalam dunia maya namun tidak sedikit yang memilih bungkam ketika diperhadapkan dengan masalah rakyat. Lantas dimana rakyat perlu mencari pemuda yang seperti dikatakan oleh Bung Karno, Pemuda yang mampu mengguncangkan Dunia?

Jika kita hanya sibuk untuk mendapatkan keakuan tanpa adanya ide maupun kerja nyata. Apa bedanya kita dengan pemerintah hari ini yang hanya sibuk memberi janji-janji manis kepada rakyat ? Masih patutkah kita disebut dengan pemuda atau menyandang status agent of change?Masih mampukah kita menjadi tali penyambung kesejahteraan rakyat?

Mengutip apa yang dikatakan oleh Tan Malaka bahwa Kemewahan pemuda hari ini terletak pada idealismenya yang merupakan kemewahan terakhir yang hanya dimiliki oleh pemuda. Oleh karena itu, sebagai pemuda kita harus senantiasa membawa perubahan kearah yang lebih baik, tidak menjadi pemuda yang hanya sekedar ikut arus namun tampil menjadi role model bagi pemuda-pemuda lain. Berhenti menjadi pemuda yang hanya sekedar merasa bahwa dirinya adalah pemuda yang idealis namun tunjukkan dalam bentuk action.Mari menjadi bagian dari generasi pembawa perubahan dengan merefleksikan kualitas diri sehingga dapat menjebol kejumudan dengan menawarkan ide-ide yang progresif. Jangan menjadi pemuda apatis apalagi pragmatis teruslah bergerak dengan mengemban visi peradaban.

 

Penulis : Sitti Rahmawati (Ketua Bidang Pemberdayaan Perempuan HmI Komisariat UPP PGSD Bone)

Komentar

Posting Komentar